Berdaya Dengan Autoimun (Marisza Cardoba)

Berdaya Dengan Autoimun (Marisza Cardoba)

[or_row][or_column width=”12/12″][or_single_image image_size=”large” animateswitch=”no” animateevent=”onhover” image_source=”media_library” image=”191″ image_align=”center” on_click_action=”op_large_image”][or_column_text animateswitch=”no” animateevent=”onhover”]

Saya adalah anak sulung dari pasangan Tito dan Tuti Cardoba, lahir pada Desember 1982 di Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Beberapa bulan sebelum divonis mengalami autoimun jenis ITP pada 1986, tepatnya saat berusia 3 tahun 8 bulan, saya mengalami kekerasan seksual. Dalam kondisi depresi, di usia 4 tahun saya kembali harus menjalani kehidupan yang tangguh setelah diagnosis autoimun ditegakkan dan mengalami silent disability hingga 25 tahun lamanya, serta hanya bisa beraktivitas 5-6 jam sehari.

[/or_column_text][/or_column][/or_row][or_row][or_column width=”12/12″][or_column_text animateswitch=”no” animateevent=”onhover”]

Semua ini karena kurangnya informasi tentang metode pengobatan yang seharusnya diiringi penerapan pola hidup sehat holistik secara disiplin dan berkelanjutan. Tak ada tempat bertanya selain dokter, yang antrean pasiennya begitu panjang sampai saya tidak enak hati jika ingin bertanya lebih. Tuhan tahu betapa saya merindukan cahaya.

[/or_column_text][/or_column][/or_row][or_row][or_column width=”12/12″][or_column_text animateswitch=”no” animateevent=”onhover”]

Pengalaman koma selama empat hari pada 9-12 Mei 2012 karena efek samping dari pengobatan yang selama ini ditempuh, ditambah depresi, menjadi jembatan untuk menghentakkan kehidupan saya jauh ke dasar, hingga akhirnya masuklah pemahaman baru akan makna hidup dan bagaimana mengisinya ke depan.

[/or_column_text][/or_column][/or_row][or_row][or_column width=”12/12″][or_column_text animateswitch=”no” animateevent=”onhover”] Di tengah perasaan terpuruk saya karena kehilangan pasangan dan usaha yang bangkrut karena tagihan biaya berobat yang tiada henti, putri saya, Shayna, yang kala itu masih berusia tiga tahun, berdoa, “Bismillahirrahmaanirrahiim. Ya Allah, sembuhkanlah Mommy. Jangan biarkan Mommy masuk rumah tanah. I love you Mom, SMILE Mom.” Saya merasa berharga. Saya dibutuhkan! [/or_column_text][/or_column][/or_row][or_row][or_column width=”12/12″][or_column_text animateswitch=”no” animateevent=”onhover”] Sejak saat itu, saya bertekad akan menimba ilmu untuk dapat berdamai dengan autoimun dan memastikan Shayna serta seluruh perempuan dan anak di Indonesia merasa aman, berharga, dan sejahtera. Saya merasakan kerinduan yang luar biasa untuk membuat mereka merasa berharga dan dibutuhkan. Karena melalui perasaaan itulah, akhirnya setiap individu termotivasi untuk mengasihi dirinya tanpa syarat, hingga akhirnya sampai pada kesadaran bahwa rencana Tuhan selalu indah untuk kita. Seperti yang saya alami saat mengetahui bahwa Shayna membutuhkan saya. [/or_column_text][/or_column][/or_row][or_row][or_column width=”12/12″][or_column_text animateswitch=”no” animateevent=”onhover”] Perjalanan saya akan jauh lebih tangguh jika tanpa kehadiran seorang malaikat yang bernama Prof.DR.dr.Aru W.Sudoyo Sp.PD,KHOM. Sebagai dokter yang merawat saya, semangat melayani beliau tidak hanya terbatas pada memberi saya solusi medis serta obat-obatan. Beliau selalu penuh inspiratif melakukan hal-hal yang bisa dikatakan melampaui kewajiban beliau sebagai konselor medis. Memperpanjang sesi diskusi, menyediakan diri menjadi pendengar yang baik, dan memberi advis sampai permasalahan kehidupan yang paling pribadi sekalipun. Beliau menempatkan pasien sangat terhormat dengan memberikan perhatian penuh, tatapan mata teduh, senyum lima jari yang tulus, serta menjemput dan mengantar pasien sampai luar pintu ruang konsultasi. Beliau bahkan tak sungkan memberikan pelukan hangat seorang sahabat. Hubungan beliau dengan para pasien sunggh tidak dibatasi tarif dan waktu. Kami, para pasien, dapat mengakses kehangatan beliau kapan pun dan di mana pun. Melihat senyuman optimistis beliau yang membangun saat kami sedang patah semangat selalu mencerahkan kembali hari kami yang muram. [/or_column_text][/or_column][/or_row][or_row][or_column width=”12/12″][or_column_text animateswitch=”no” animateevent=”onhover”] Dari berbagai pasien lain saya bahkan mendapat cerita tentang beliau yang rela menjembatani terbangunnya hubungan harmonis keluarga pasien. Beliau betul-betul menghantarkan pasien untuk pulih secara utuh, jasmani dan rohani. Dari beliaulah saya banyak belajar bagaimana menjadi pelayan yang baik, bagaimana menjadi pelayan yang memberikan cahaya harapan, hingga banyak orang bangkit menjadi suar dan pelita bagi banyak orang lainnya. [/or_column_text][/or_column][/or_row][or_row][or_column width=”12/12″][or_column_text animateswitch=”no” animateevent=”onhover”]

Atas dorongan semangat dan “penugasan” dari Prof.DR.dr.Aru W.Sudoyo Sp.PD, KHOM, akhirnya DR.dr.Andhika Rachman, Sp.PD, KHOM mendampingi saya mendirikan Marisza Cardoba Foundation (MCF) pada tahun 2012. Kami berkesempatan melayani banyak sahabat yang kehilangan semangat juang. Mendampingi mereka mengalami masa sulit saat harus terpuruk karena penolakan dari lingkungan terdekat atas kondisi yang dialami. Namun, cinta kasih yang diajarkan Shayna dan Prof.Aru seolah menjadi pedang dan perisai kami dalam melawan keputusasaan. Tuhan ijinkan banyak mukjizat terjadi. Semangat banyak orang pulih hingga akhirnya fisik mereka juga dipulihkan dan pada akhirnya memilih mengabdi kepada Tuhan dan masyarakat bersama Marisza Cardoba Foundation. Mulai dari segelintir, sampai akhirnya kini ada ribuan orang yang telah bangkit bergerak bersama kami. Merekalah para penyintas autoimun.

[/or_column_text][/or_column][/or_row][or_row][or_column width=”12/12″][or_column_text animateswitch=”no” animateevent=”onhover”]

Melalui proses ini, saya belajar banyak, terutama bahwa meski belum ada obatnya, dengan penerapan pola hidup sehat ternyata autoimun dapat dikendalikan serta tidak mengganggu kualitas hidup penyintasnya. Setelah 25 tahun menggantungkan diri pada obat-obatan, akhirnya saya mencapai remisi, yaitu kondisi bebas obat dengan gejala autoimun terkendali karena penerapan Lima Dasar Hidup Sehat (LDHS) secara holistik, disiplin dan berkelanjutan. Selama lima tahun terakhir ini, saya mampu beraktivitas 14-16 jam sehari.

[/or_column_text][/or_column][/or_row][or_row][or_column width=”12/12″][or_column_text animateswitch=”no” animateevent=”onhover”] Saat ini saya menjalani peran sebagai ibu dari Shayna Alethea (8 tahun) dan istri dari Albert Tjahjanto. Saya menyibukkan diri dalam perlayanan  bersama keluarga besar penyintas dan pemerhati autoimun melalui Marisza Cardoba Foundation (MCF), inspirator nasional PUSPA untuk Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, menekuni desain untuk Batik Cardoba Indonesia bersama adik saya, Judith Cardoba, dan terlibat dalam pengembangan bisnis sosial bersama sahabat-sahabat penyintas autoimun lainnya. [/or_column_text][/or_column][/or_row][or_row][or_column width=”12/12″][or_column_text animateswitch=”no” animateevent=”onhover”] Betapa berlimpah kasih sayang Tuhan atas diri saya, yang memperbolehkan saya melayani masyarakat Indonesia bersama sahabat-sahabat terbaik saya, dr. Fransiska Hardi Sp.PD, Eka Wahyuningsih, Suriyanti Bakri, Endang Arriyanti, Andriani Hui, Wenny Carnika, Juni Putra, Reza Hilmawan, Ady Soeghondo, Tanti Sapto, Dafina Dafris, Wita, Budi Dwi Hariyanto, Ganjar. Dengan dukungan penuh dari Dewan Pembina dan Dewan Pengawas MCF, DR.dr.Andhika Rachman Sp.PD,KOM, DR.dr.Iris Rengganis Sp.PD,KAI, Ir.Ganis Trisnanisasi, Susan Hartono MSc, CHt, Yonita Chandra DVM, MBA, Lilik Sudarwati S.Psi,MH, Runie Sari Ariani, Tito Cardoba, dan Irman Firmansyah, serta jaringan Indonesia Autoimmune Campaign, Autoimmuneprenur Indonesia. [/or_column_text][/or_column][/or_row][or_row][or_column width=”12/12″][or_column_text animateswitch=”no” animateevent=”onhover”] Semua pelayanan ini juga tak akan menjadi besar tanpa dukungan penuh dari malaikat kami semua, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia beserta seluruh jajarannya, terutama Bunda Yuni yang selalu menggembleng saya dengan sepenuh hati. [/or_column_text][/or_column][/or_row][or_row][or_column width=”12/12″][or_column_text animateswitch=”no” animateevent=”onhover”] Untuk seluruh sahabat autoimun dan seluruh masyarakat Indonesia serta dunia, mulailah sekarang juga menerapkan Lima Dasar Hidup Sehat (LDHS). Jika masih bingung bagaimana mempraktikannya dalam keseharian, lihat catatan kecil saya mengenai jadwal LDHS yang biasa saya tetapkan sehari-hari.   (dari buku “Autoimmune The True Story”) [/or_column_text][/or_column][/or_row]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

آپلود عکس