Pengalaman Penanganan Diare pada AI Survivor

Ceritanya bermula dari Senin pagi bangun dengan badan yang kurang enak…terpikir ingin ijin istirahat tapi terbayang pekerjaan yang sedang menumpuk karena kekurangan personil team kolektor dan admin yang tidak masuk dan sudah 3 minggu an ini harus menggantikan pekerjaannya.

Sehabis makan pagi perut rasanya mules sekali dan pas BAB ternyata cair semua alias m*ncr*t. Saya masih belum terpikir apa2 selain mau training kolektor baru yang perlu aku temani jalan ke relasi. Ternyata pengalaman siang itu berlanjut, di jalan perut kembali mules dan sampai di relasi ijin ke belakang dan keluarnya pun cair juga.

Pulang kantor sampai di rumah, begitu juga sampai tidak nafsu untuk makan. Setelah makan sedikit, langsung tidur. Tengah malam nya tiba2 terbangun karena perut kembali kerucukan sampai 2-3 kali berulang ke belakang sampe badan mulai lemas. Saya coba bangunkan istri, belum sampai menjelaskan kondisi saya tiba2 mual sekali dan lari ke wastafel saya m*nt*h. Akhirnya diputuskan ke rumah sakit, saya diantar istri ke UGD RS terdekat jam 12 malam itu. . . .

Kenapa kok bisa diare ya? padahal apa yang saya makan sama dengan yang istri dan anak2 konsumsi. Hasil bincang2 dengan dokter dan teman2, kami menduga ada 3 faktor pemicunya :   

1. Kondisi fisik saya sedang cape krn 3 hari berturut-turut ikut misa malam, dan minggunya masih jalan ke Tangerang sampai rumah malam juga. Siangnya kami makan gado2 yang kami tidak tau kondisi kebersihanya karena baru pertama kali makan di daerah itu.   

2. Ditambah sedang minum obat kortikosteroid yang menekan sistem kekebalan tubuh jadi beresiko rentan penyakit.   

3. Sedang banyak diare karena virus atau kemungkinan food poisoning dari gado2 yang dimakan   

Inilah yang membedakan kondisi saya dengan mereka. Istri dan anak2 lebih fit. . . .

Beberapa hal yang sangat membantu saya sebagai AI Survivor saat menghadapi sakit (diare) :   

1. Menghubungi dokter yang menangani kita, konsultasikan setiap obat2an yang akan kita minum   

2. Masuk grup komunitas autoimun, kita bisa tanya berbagai hal, akan ada banyak pengalaman sesama penyintas atau caregiver yang menambah pengetahuan kita   

3. Selain obat2an, asupan makan : bubur nasi, telur rebus matang, teh pahit.   

4. Sebagai tambahan bisa disiapkan juga : pisang kepok rebus dan air panas dalam thermos, didekat kita berbaring. Saya terbantu karena saat kurang nafsu makan tubuh bisa tetap dapat asupan makan dan minum supaya tidak dehidrasi.   

5. Tetap perlu observe diri sendiri juga karena tidak semua saran mungkin pas untuk kondisi masing2 penyintas yang berbeda.   

6. Tidak perlu malu dengan kondisi fisik yang mungkin berbeda dengan kondisi sebelum AI, terkadang memang tidak enak hati sebentar2 harus ijin sakit ke atasan belum tentu rekan kerja mengerti kondisi kita, tapi dibanding harus menghadapi flare up yg lebih worst kondisinya sebaiknya istirahat saat alarm tubuh keluar sinyalnya.   

7. Paling bagus membawa makanan sendiri dari rumah, tapi jika sedang tdk memungkinkan hati2 dalam memilih tempat mkn, usahakan masakan non-msg dan jika dirasa kurang bersih sebaiknya cari tempat lain.   

8. Tetap bersyukur dan berdoa pada Tuhan karena dibalik kondisi dan kesulitan kita ada pendamping/caregiver/teman-teman dan dokter yang mau membantu kita.   

Semoga bermanfaat.   

PS. Tks buat semua support para dokter dan team MCF yang luar biasa responnya untuk membantu kami para caregiver dan AI Survivor tetap survive. #AIsurvivor #MCF #KeluargaLDHS 

Ini Alasannya 10 Tahun Ibu Guru Masih Mengajar Tunagrahita, Meski 5 Jenis Autoimun di Tubuhnya

I LOVE TO SHARE
WAG LDHS Family-IAC
Kamis, 4 Mei 2017

Vaskulitis
Oleh : Nippy Infante CK, 45 tahun

Sejak remaja saat haid adalah masa yang membuat trauma karena di hari ke 1, 2 atau 3 itulah saya merasakan sakit yang amat sangat, terkadang disertai pingsan sehingga tidak bisa sekolah/kuliah. SpOG mendiagnosa endometriosis dan diberi obat penahan sakit di setiap haid, serta menyarankan untuk operasi kista tersebut kalau nanti sudah menikah. Menurut SpOG biasa kista tersebut juga keluar bersamaan dengan proses kelahiran normal suatu saat nanti.

Sejak remaja saya relatif sering sakit dengan banyak keluhan seperti maag kronis atau juga pernah alami radang sendi juga radang tenggorokan berulang di setiap bulan sehingga jalankan operasi amandel. Saat kecilpun di waktu tertentu rutin alami biduran/kaligata.

Saya menikah tahun 1997.
Desember 2007 setelah operasi kista endometriosis (ini operasi kista yg ke-4) sekalian operasi perlengketan rahim, SpOG melakukan terapi hormon untuk menghentikan haid sementara. Dari terapi inilah saya mulai merasa nyeri-nyeri tulang & sendi terutama nyeri yg amat sangat pada jari-jari tangan sehingga dilakukan densitometri juga bone scanning. Saya dirujuk ke-3 subspesialis yaitu hematolog, rematolog, dan ahli bedah vasculair karena diduga Lupus. Hasil pemeriksaan dokter-dokter tersebut menunjukkan belum positif autoimun.

Juni 2013 setelah kelelahan mengurus dua anak yg diopname karena thypus & demam berdarah bergantian, saya terpeleset dengan posisi terduduk di teras rumah karena lantai masih licin akibat sisa obat fogging. Karena tidak ada rasa sakit saya lanjutkan beraktivitas seperti biasa tapi kira-kira satu minggu kemudian ada nyeri di sekitar sendi kaki. Saya pikir mungkin keseleo akibat terpeleset yang lalu namun setiap selesai dipijat urut malah bertambah nyeri dan kemudian timbul bengkak di dua sendi kaki sampai ke arah lutut juga ada bercak-bercak kemerahan. Saya diberi corticosteroid oleh internist sehingga nyeri & bengkak membaik, tapi terkadang nyeri dan bengkaknya kambuh kembali sehingga saya mencari second opinion ke ahli bedah tulang. Beliau yakin tulang saya baik-baik saja tapi meminta saya kembali lagi pada internist utk melakukan pemeriksaan lanjutan sehingga akhirnya diketahui ANA IF positif 320 dan dirujuk ke dokter ahli autoimun di Jakarta (saya berdomisili di Bogor).

Sejak bertemu dokter ahli autoimun dan dilakukan serangkaian pemeriksaan kemudian tegaklah diagnosa Autoimun yaitu Vasculitis & Sjogren’s Syndrome dengan nilai Schimmer Test 0 & 1. Sempat saya mencari second opinion ke dokter ahli autoimun lain karena terkejut dengan banyaknya obat yang diberikan ahli autoimun pertama. Tapi karena ahli autoimun ke-2 mengatakan saya sudah tidak ada harapan, saya kembali ke dokter ahli autoimun yang pertama.

Berjalannya waktu saat pengobatan autoimun, terjadi haid yang lebih banyak dari biasanya dan diketahui ada endometriosis juga adenomyosis sehingga ahli autoimun mengirim saya operasi terpadu untuk pengangkatan rahim juga operasi usus buntu karena sudah lama meradang. Karena saya punya gangguan asthma bronkhitis kronis juga jantung Mitral Valve Prolaps bawaan lahir dan pernah terdiagnosa Kardi Iskemi dinding inferior jadi perlu pendampingan ahli paru dan ahli jantung. Operasi terpadu ini untuk mengambil bagian tubuh yang infeksi agar pengobatan autoimun berjalan efektif.

Setelah menjalankan operasi terpadu, saya mengalami diare yang lebih sering dari sebelumnya dengan disertai kembung yang terus menerus sehingga internist ahli gastro menyarankan endoskopi karena hal seperti ini bisa terjadi akibat autoimun yang sudah diderita. Hasil endoskopi menunjukkan Inflamatory Bowl Desease/Chron’s Desease sebagai jenis autoimun ke-3 saya & dokter tersebut melakukan terapi obat yg cukup banyak selama beberapa waktu dg pengulangan endoskopi untuk melihat perkembangan terapi obat.

Berjalannya waktu pengobatan autoimun, beberapa kali saya diopname karena bronchopneunomia sehingga internist merujuk untuk bronkoskopi. Hasil bronkoskopi, paru-paru yang sering bronkhitis terjadi karena autoimunnya.

Ada dokter yang menyatakan kalau endometriosis berulang dan asthma adalah jenis dari autoimun juga. Kalau memang demikian berarti saya terkena 5 jenis autoimun.

Dalam kondisi yang tidak selalu fit, saya tidak berhenti beraktivitas karena sejak remaja terbiasa sibuk dalam didikan keluarga militer. Jadi sejak menikahpun saya terlibat dg kegiatan lingkungan masyarakat seperti pengurus RT, membantu kegiatan di PAUD, ikut kepanitian seperti sunatan massal, mengajar keterampilan secara gratis bagi yang membutuhkan dilanjutkan dengan menjadi relawan guru di SLB, menjadi koordinator pengajian mesjid di komplek, ikut perberdayaan kampung tertinggal di sekitar mesjid komplek, ikut keanggotaan koperasi komunitas resto juga komunitas swalayan.

Meski sangat senang berkegiatan, terkadang saya kelelahan dan menjadi sakit sehingga sering diopname & menjadi terpaksa istirahat dalam jangka waktu tertentu.

Saya tahu bahwa ada panduan yg harus saya jalankan sebagai penyandang autoimun yaitu berLDHS (Lima Dasar Hidup Sehat). Dan ini belum sepenuhnya saya jalankan padahal efeknya sangat signifikan bagi teman2 yg sudah menjalankannya secara menyeluruh. Untuk point ke 3, 4 dan 5 yaitu Pengendalian Stress, Terus Belajar, Hidup Positif sudah saya terapkan. Namun point ke 1 dan 2 yaitu Gaya Hidup Sehat & Aktif Mandiri belum sepenuhnya. Untuk point 1 menjaga kebersihan & periksa kesehatan berkala sudah tentu dilakukan namun belum sepenuhnya memilih makanan sehat. Untuk point 2 belum bisa berolahraga rutin setiap hari & belum menanam bahan pangan sendiri.
Ini adalah tantangan buat saya untuk bisa menyusul teman2 yg sudah menjalankan LDHS & mereka memasuki masa remisi lebih cepat dibanding yang tidak berLDHS serta terlihat lebih segar bugar.

Dukungan dari suami dalam setiap sakit adalah hal yg sangat luar biasa. Kami saling mengenal sejak masa SMA sehingga beliau sudah memahami keadaan saya yang sering berkunjung ke dokter.
Anak-anak juga sangat luar biasa.
Kenangan indah bisa melahirkan mereka melalui operasi caesar dengan ujian sakit yang ada.
Sekarang mereka sudah besar. Anak pertama laki-laki sudah kuliah di Al Azhar Jakarta dan yg kecil perempuan sudah kelas dua SMP di Sentul Bogor

Kegiatan yang paling saya cintai saat ini adalah sudah 10 tahun menjadi guru relawan di SLB. Melalui hari penuh rasa cinta dan gembira adalah bagian dari LDHS juga. Hal inilah yang menjaga saya tetap bersemangat, dan tentu saja bertekad untuk menyempurnakan penerapan LDHS, agar produktivitas meningkat. Saya ingin berbuat lebih untuk murid-murid saya, dan juga masyarakat luas.

#vaskulitis
#ITP
#ITP_ID
#Autoimun
#Autoimmune
#SmileWithITP
#Autoimmunepreneur
#SatuJutaAutoimmunepreneursIndonesia
#MariszaCardobaFoundation
#IndonesiaAutoimmuneCampaign
#LimaDasarHidupSehat
#LDHS
#Smile

PENGEN REMISI

Setelah berjibaku dengan kondisi flare, akhirnya dosis obat naik kembali ke awal 3×2 @4mg medrol….hikz. Sayang bangeeet rasanya yang sudah maintenance berhasil menurunkan dosis sampai 2hari sekali minum obatnya, makan dijaga, kurangi konsumsi karbo….tapi apa daya beberapa hari berturut-turut kena macet dijalan, perjalanan 2,5jam baru bisa sampai tujuan, dan akumulasi kondisi dari minggu sebelumnya akhirnya bikin tepaar juga… Pas masuk kerja, ada teman tanya kemarin kenapa 3 hari gak masuk? Kok bisa sakit padahal sudah dijaga makan sayuran segala….. Aku pun jawab, “dijaga saja masih bisa flare….apalagi kalau gak dijaga…hehe” Yach, aku teringat pembicaraan dengan teman yang autoimun SLE dan waktu dia tau saya menolak roti yang ditawarkan ke saya karena mengandung gluten, dia bilang, “kamu jaga makan ya, kalau aku sich enggak…” Saya balik nanya dosis obat berapa? Dan dia jawab minum obat 10 butir tiap hari. Yach pantas cukup bermasalah dengan ginjal dan moonface nya. Itulah sebenarnya yang dihindari dan alasan kenapa para AIsurvivor berusaha untuk remisi atau lepas obat. Resiko penggunaan obat kortikostereoid atau immunosupresan dalam jangka panjang buat tubuh sendiri perlu diperhatikan. Tak jarang banyak usaha para AIsurvivor untuk mengganti pola makan, ganti alat masak, belajar mengurangi gula, belajar mengenali tanda-tanda tubuh sendiri, dan bolak balik naik turun dosis. Gak mudah mencapai remisi memang, karena tantangan buat para AIsurvivor :

  • hindarin 5P (Perasa, Pemanis, Pengawet, Pewarna, dan Produk GMO), tapi makanan jaman now kebanyakan gitu semua?
  • tidak boleh kecapean, tapi kerjanya jauh gimana?
  • tidak boleh stress, tapi masalah ada aja gimana donk?

Iya berat…..tapi bukan gak mungkin.. Ada caranya yang bisa dipelajari sama-sama di grup keluarga LDHS. Ada yang sudah berhasil, ada juga yang masih minum obat immunosupressan. Tapi semua belajar berjuang bersama. Waktu sedang flare kemaren banyak yang memberi semangat di grup WA keluarga LDHS. Memberikan support mental dan dukungan doa. Dan secara tak sengaja atas obrolan dengan para superteam MCF (Marisza Cardoba Foundation), maka tercetuslah ide untuk membuat kaos Dilan Jaman Now “Pengin Remisi” untuk menyemangati perjuangan para AIsurvivor. Kaos ini sebagai pengingat buat diri sendiri sekaligus jadi penyemangat buat penyintas yang lain. Kita percaya jika punya kemauan, pasti ada jalannya…Tangan Tuhan tak kurang panjang untuk menolong. Dan kalo semangatmu kayak Dilan buat Milea, sambil doa dan usaha, bukan gak mungkin bisa mencapai remisi…amin 😉 Hasil penjualan kaos ini akan disumbangkan ke Yayasan Autoimun Marisza Cardoba Foundation (MCF), agar melalui team, pendamping dan seluruh keluarga besar LDHS (Lima Dasar Hidup Sehat) dapat menjangkau lebih banyak lagi autoimmune survivor di Indonesia. Buruan pesan kaos PRE-ORDER nya sebelum kehabisan waktunya cuman sampai tanggal 17 Feb 2018, lho… Sahabat AIsurvivor bisa klik tautan ini : http://bit.ly/2H9da8H atau klik langsung foto kaosnya di atas

Kangen Spaghetti, Coba Bikin Croodle Selimut Telur Bolognese

Buat para aisurvivor harus mulai menjaga pola makan dan menghindari makanan-makanan yang mengandung gluten seperti mie, roti, oatmeal (gandum), termasuk spaghetti yang menggoda hati. Saya beruntung rasa kangen itu terobati dengan dibuatkan croodle selimut telur saus bolognese ini, buat makan siang di kantor. Croodle alias carrot noodle mudah membuatnya hanya dengan bahan wortel. Pengen tau cara buatnya? Gampang ikutin saja langkah-lagkahnya di bawah ini. 

Bahannya : wortel aja … diserut / pake spiralizer lalu masak air …mendidih + garam masukkan croodle nya

Bahan Saus nya : Dada ayam diiris dadu + sisa wortel (krn kalo diserut kan masih sisa …lalu dipotong dadu kecil), jamur kancing iris dadu, bawang bombay 1/2 ukuran kecil iris dadu, bawang putih 3-4 siung, minyak zaitun 1sdm, saos tomat (home made ) nanti ada resepnya sendiri air 100-150 ml * jika tidak ada saus tomat home made …jangan menggunakan saus tomat botolan .pilihan lain bisa dengan cincang halus tomat segar 3-4 buah.

Cara nya : tumis bawang putih dan bawang bombay sampe harum masukkan dada ayam, wortel dan jamur, sampai ayam matang masukkan saus tomat bikinan sendiri tambahkan garam + gula aren/kelapa Tambahkan daun basil dan oregano kering sejumput cicip dan koreksi rasa 

 

Cara Joging Buat Penyintas Autoimun

Ketika seseorang mulai berlatih dengan nyaman (bukan berlatih sampai lelah), perlahan tubuh akan mengeluarkan serotonin. Serotonin dikenal sebagai kontributor untuk perasaan bahagia dan rileks. Dengan begitu bisa mengelola stres. Salah satu olahraga yang bisa dilakukan adalah joging.   Joging atau lari merupakan olahraga sederhana, mudah dan murah, serta dapat dilakukan oleh siapa saja baik orang tua, muda, pria ataupun wanita. Manfaat yang didapat pun tidak kalah dengan olahraga lain seperti renang atau berlatih di pusat kebugaran. Bagaimana cara joging yang tepat buat penyintas autoimun ? 

 

Perbedaan Joging dan Lari

  • Perbedaan yang paling besar mendasar adalah langkah kaki. Pada joging, kaki melangkah kecil-kecil sehingga sepintas terlihat seperti berjalan cepat, sedangkan pada lari langkah kaki lebh lebar.
  • Kecepatan berlari lebih tinggi dibandingkan joging
  • Siku tangan membentuk sudut 90 derajat pada saat berlari dengan ayunan yang mantap dibandingkan joging yang lebih relaks.

Manfaat Bagi Tubuh Beberapa manfaat joging bagi tubuh diantaranya :

  • Meningkatkan kesehatan jantung
  • Dengan disertai pola makan yang baik dapat membantu menurunkan bobot tubuh
  • Apabila dilakukan secara teratur dan dengan porsi latihan yang cukup akan membantu meningkatkan kekebalan tubuh.
  • Memperbaiki fungsi kerja otak, karena sirkulasi darah yang baik saat berlari akan menyuplai oksigen ke seluruh tubuh termasuk otak

 

Persiapan Sebelum Berlari / Joging

  • Disarankan memakai sepatu khusus berlari dengan ukuran yang nyaman di kaki. Setiap individu memiliki keunikan tersendiri. Memilih sepatu lari merupakan awal yang harus dilakukan sebelum berlatih. Hal ini bertutujan agar tubuh terhindar dari cedera.
  • Kenakan pakaian olahraga yang nyaman dan menyerap keringat. Hindari bahan yang membuat tubuh tetap basah.
  • Minum air putih 1-2 gelas sebelum dan sesudah berlatih.

 

Sikap Tubuh Yang Benar Saat Joging / Lari

  • Telapak kaki : cobalah mendarat di bagian tengah pada telapak kaki Anda
  • Tangan : posisi telapak tangan agak sedikit menggenggam agar lengan dan bahu relaks.
  • Bahu : jaga bahu Anda agar tidak tegang dan selalu menjauh dari telinga
  • Siku : tekuk siku Anda dan tarik sedekat mungkin ke arah tubuh. Hindari gerakan “twist” saat joging/lari

 

Jika Anda belum pernah joging, mulailah berjalan kaki terlebih dahulu (total latihan 30 menit) yang diakhiri dengan berjalan pelan. Lakukanlah bertahap, mulai dengan berjalan pelan, jalan cepat, joging dan akhiri dengan berjalan pelan. Tubuh akan memberikan sinyal kapan harus berjalan, joging atau berjalan lebih cepat. Sertakan juga pemanasan sebelum memulai dan pendingan setelah selesai joging. Disarankan sebelum memulai latihan konsultasikan kondisi Anda terlebih dahulu kepada dokter. (Adeline Windy/Autoimmune True Story)

Berdaya Dengan Autoimun (Marisza Cardoba)

[or_row][or_column width=”12/12″][or_single_image image_size=”large” animateswitch=”no” animateevent=”onhover” image_source=”media_library” image=”191″ image_align=”center” on_click_action=”op_large_image”][or_column_text animateswitch=”no” animateevent=”onhover”]

Saya adalah anak sulung dari pasangan Tito dan Tuti Cardoba, lahir pada Desember 1982 di Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Beberapa bulan sebelum divonis mengalami autoimun jenis ITP pada 1986, tepatnya saat berusia 3 tahun 8 bulan, saya mengalami kekerasan seksual. Dalam kondisi depresi, di usia 4 tahun saya kembali harus menjalani kehidupan yang tangguh setelah diagnosis autoimun ditegakkan dan mengalami silent disability hingga 25 tahun lamanya, serta hanya bisa beraktivitas 5-6 jam sehari.

[/or_column_text][/or_column][/or_row][or_row][or_column width=”12/12″][or_column_text animateswitch=”no” animateevent=”onhover”]

Semua ini karena kurangnya informasi tentang metode pengobatan yang seharusnya diiringi penerapan pola hidup sehat holistik secara disiplin dan berkelanjutan. Tak ada tempat bertanya selain dokter, yang antrean pasiennya begitu panjang sampai saya tidak enak hati jika ingin bertanya lebih. Tuhan tahu betapa saya merindukan cahaya.

[/or_column_text][/or_column][/or_row][or_row][or_column width=”12/12″][or_column_text animateswitch=”no” animateevent=”onhover”]

Pengalaman koma selama empat hari pada 9-12 Mei 2012 karena efek samping dari pengobatan yang selama ini ditempuh, ditambah depresi, menjadi jembatan untuk menghentakkan kehidupan saya jauh ke dasar, hingga akhirnya masuklah pemahaman baru akan makna hidup dan bagaimana mengisinya ke depan.

[/or_column_text][/or_column][/or_row][or_row][or_column width=”12/12″][or_column_text animateswitch=”no” animateevent=”onhover”] Di tengah perasaan terpuruk saya karena kehilangan pasangan dan usaha yang bangkrut karena tagihan biaya berobat yang tiada henti, putri saya, Shayna, yang kala itu masih berusia tiga tahun, berdoa, “Bismillahirrahmaanirrahiim. Ya Allah, sembuhkanlah Mommy. Jangan biarkan Mommy masuk rumah tanah. I love you Mom, SMILE Mom.” Saya merasa berharga. Saya dibutuhkan! [/or_column_text][/or_column][/or_row][or_row][or_column width=”12/12″][or_column_text animateswitch=”no” animateevent=”onhover”] Sejak saat itu, saya bertekad akan menimba ilmu untuk dapat berdamai dengan autoimun dan memastikan Shayna serta seluruh perempuan dan anak di Indonesia merasa aman, berharga, dan sejahtera. Saya merasakan kerinduan yang luar biasa untuk membuat mereka merasa berharga dan dibutuhkan. Karena melalui perasaaan itulah, akhirnya setiap individu termotivasi untuk mengasihi dirinya tanpa syarat, hingga akhirnya sampai pada kesadaran bahwa rencana Tuhan selalu indah untuk kita. Seperti yang saya alami saat mengetahui bahwa Shayna membutuhkan saya. [/or_column_text][/or_column][/or_row][or_row][or_column width=”12/12″][or_column_text animateswitch=”no” animateevent=”onhover”] Perjalanan saya akan jauh lebih tangguh jika tanpa kehadiran seorang malaikat yang bernama Prof.DR.dr.Aru W.Sudoyo Sp.PD,KHOM. Sebagai dokter yang merawat saya, semangat melayani beliau tidak hanya terbatas pada memberi saya solusi medis serta obat-obatan. Beliau selalu penuh inspiratif melakukan hal-hal yang bisa dikatakan melampaui kewajiban beliau sebagai konselor medis. Memperpanjang sesi diskusi, menyediakan diri menjadi pendengar yang baik, dan memberi advis sampai permasalahan kehidupan yang paling pribadi sekalipun. Beliau menempatkan pasien sangat terhormat dengan memberikan perhatian penuh, tatapan mata teduh, senyum lima jari yang tulus, serta menjemput dan mengantar pasien sampai luar pintu ruang konsultasi. Beliau bahkan tak sungkan memberikan pelukan hangat seorang sahabat. Hubungan beliau dengan para pasien sunggh tidak dibatasi tarif dan waktu. Kami, para pasien, dapat mengakses kehangatan beliau kapan pun dan di mana pun. Melihat senyuman optimistis beliau yang membangun saat kami sedang patah semangat selalu mencerahkan kembali hari kami yang muram. [/or_column_text][/or_column][/or_row][or_row][or_column width=”12/12″][or_column_text animateswitch=”no” animateevent=”onhover”] Dari berbagai pasien lain saya bahkan mendapat cerita tentang beliau yang rela menjembatani terbangunnya hubungan harmonis keluarga pasien. Beliau betul-betul menghantarkan pasien untuk pulih secara utuh, jasmani dan rohani. Dari beliaulah saya banyak belajar bagaimana menjadi pelayan yang baik, bagaimana menjadi pelayan yang memberikan cahaya harapan, hingga banyak orang bangkit menjadi suar dan pelita bagi banyak orang lainnya. [/or_column_text][/or_column][/or_row][or_row][or_column width=”12/12″][or_column_text animateswitch=”no” animateevent=”onhover”]

Atas dorongan semangat dan “penugasan” dari Prof.DR.dr.Aru W.Sudoyo Sp.PD, KHOM, akhirnya DR.dr.Andhika Rachman, Sp.PD, KHOM mendampingi saya mendirikan Marisza Cardoba Foundation (MCF) pada tahun 2012. Kami berkesempatan melayani banyak sahabat yang kehilangan semangat juang. Mendampingi mereka mengalami masa sulit saat harus terpuruk karena penolakan dari lingkungan terdekat atas kondisi yang dialami. Namun, cinta kasih yang diajarkan Shayna dan Prof.Aru seolah menjadi pedang dan perisai kami dalam melawan keputusasaan. Tuhan ijinkan banyak mukjizat terjadi. Semangat banyak orang pulih hingga akhirnya fisik mereka juga dipulihkan dan pada akhirnya memilih mengabdi kepada Tuhan dan masyarakat bersama Marisza Cardoba Foundation. Mulai dari segelintir, sampai akhirnya kini ada ribuan orang yang telah bangkit bergerak bersama kami. Merekalah para penyintas autoimun.

[/or_column_text][/or_column][/or_row][or_row][or_column width=”12/12″][or_column_text animateswitch=”no” animateevent=”onhover”]

Melalui proses ini, saya belajar banyak, terutama bahwa meski belum ada obatnya, dengan penerapan pola hidup sehat ternyata autoimun dapat dikendalikan serta tidak mengganggu kualitas hidup penyintasnya. Setelah 25 tahun menggantungkan diri pada obat-obatan, akhirnya saya mencapai remisi, yaitu kondisi bebas obat dengan gejala autoimun terkendali karena penerapan Lima Dasar Hidup Sehat (LDHS) secara holistik, disiplin dan berkelanjutan. Selama lima tahun terakhir ini, saya mampu beraktivitas 14-16 jam sehari.

[/or_column_text][/or_column][/or_row][or_row][or_column width=”12/12″][or_column_text animateswitch=”no” animateevent=”onhover”] Saat ini saya menjalani peran sebagai ibu dari Shayna Alethea (8 tahun) dan istri dari Albert Tjahjanto. Saya menyibukkan diri dalam perlayanan  bersama keluarga besar penyintas dan pemerhati autoimun melalui Marisza Cardoba Foundation (MCF), inspirator nasional PUSPA untuk Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, menekuni desain untuk Batik Cardoba Indonesia bersama adik saya, Judith Cardoba, dan terlibat dalam pengembangan bisnis sosial bersama sahabat-sahabat penyintas autoimun lainnya. [/or_column_text][/or_column][/or_row][or_row][or_column width=”12/12″][or_column_text animateswitch=”no” animateevent=”onhover”] Betapa berlimpah kasih sayang Tuhan atas diri saya, yang memperbolehkan saya melayani masyarakat Indonesia bersama sahabat-sahabat terbaik saya, dr. Fransiska Hardi Sp.PD, Eka Wahyuningsih, Suriyanti Bakri, Endang Arriyanti, Andriani Hui, Wenny Carnika, Juni Putra, Reza Hilmawan, Ady Soeghondo, Tanti Sapto, Dafina Dafris, Wita, Budi Dwi Hariyanto, Ganjar. Dengan dukungan penuh dari Dewan Pembina dan Dewan Pengawas MCF, DR.dr.Andhika Rachman Sp.PD,KOM, DR.dr.Iris Rengganis Sp.PD,KAI, Ir.Ganis Trisnanisasi, Susan Hartono MSc, CHt, Yonita Chandra DVM, MBA, Lilik Sudarwati S.Psi,MH, Runie Sari Ariani, Tito Cardoba, dan Irman Firmansyah, serta jaringan Indonesia Autoimmune Campaign, Autoimmuneprenur Indonesia. [/or_column_text][/or_column][/or_row][or_row][or_column width=”12/12″][or_column_text animateswitch=”no” animateevent=”onhover”] Semua pelayanan ini juga tak akan menjadi besar tanpa dukungan penuh dari malaikat kami semua, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia beserta seluruh jajarannya, terutama Bunda Yuni yang selalu menggembleng saya dengan sepenuh hati. [/or_column_text][/or_column][/or_row][or_row][or_column width=”12/12″][or_column_text animateswitch=”no” animateevent=”onhover”] Untuk seluruh sahabat autoimun dan seluruh masyarakat Indonesia serta dunia, mulailah sekarang juga menerapkan Lima Dasar Hidup Sehat (LDHS). Jika masih bingung bagaimana mempraktikannya dalam keseharian, lihat catatan kecil saya mengenai jadwal LDHS yang biasa saya tetapkan sehari-hari.   (dari buku “Autoimmune The True Story”) [/or_column_text][/or_column][/or_row]

آپلود عکس