Mengelola ITP dengan LDHS (Endang Arriyanti)

5 Tahun aku bersahabat dengan ITP (Immune Trombocytopenic Purpura) salah satu penyakit kelainan autoimun  yang menyerang trombosit, yang mengakibatkan penderitanya rentan terhadap memar dan pendarahan berlebihan. [/or_column_text][or_column_text animateswitch=”no” animateevent=”onhover”] Dulu sewaktu pertama kali terdiagnosa ITP,  itu tidak sengaja ….awalnya saya menderita batuk selama tiga bulan, sampai capek rasanya. Entah berapa botol obat batuk saya habiskan sampai akhirnya saya memutuskan ke dokter. [/or_column_text][or_column_text animateswitch=”no” animateevent=”onhover”] Setelah ke dokter saya disarkankan melakukan cek darah komplit dan setelah ada hasilnya semua bagus tetapi trombosit saya dibawah normal, waktu itu kisaran 70.000. Di benak saya langsung terpikir saya terkena DBD. Akhirnya saya memutuskan periksa darah rutin selama lima hari berturut-turut dan ternyata trombosit saya makin menurun. 

Dari hasil lab itu, saya konsultasi ke dokter spesialis penyakit dalam. Setelah melihat hasil lab, dokter mendiagnosa saya suspek ITP. Maka untuk memastikan saya disarankan untuk memeriksa Hbs Anti HIV, HIV, IgG & IgM, anti helicobacteri pylori, ANA dan anti ds DNA tapi hasilnya negatif semua. Dokter semakin yakin kalau saya suspek ITP tapi belum diberikan obat steroid.

Untuk memastikan lagi, saya disarankan untuk melakukan bmp, tapi dokter menyarankan untuk periksa autoantibodi trombosit dan ternyata hasilnya positif, sehingga akhirnya dokter memastikan saya positif ITP dan alhamdulillah saya tidak perlu melakukan bmp.

Setelah didiagnosa ITP saya sebenarnya belum mengerti apa itu ITP. Kalau ditanya sakit apa saya selalu menjawab bahwa trombosit saya drop tapi bukan DBD, karena saya belum bisa menjelaskan apa itu ITP.

Saat itu saya diberikan obat stereoid dosis tinggi, 16mg x 3 sehari selama 6 bulan. Bulan ke 7 dosis diturunkan menjadi 8mg x 3 sehari selama 2 bulan, setelah itu dosis diturunkan lagi menjadi 4mg x 3 sehari. Dan alhamdulillah setelah dua bulan, trombosit saya stabil dikisaran 40.000-50.000 dan dokter memperbolehkan saya lepas obat.

Pada bulan Mei 2014 kondisi saya drop karena terkena cacar air, trombosit pun terjun bebas dari kisaran 70.000 hingga ke 10.000. Badan rasanya lemas sekali, serasa tidak ada tulang. Sampai untuk berjalan saja rasanya berat sekali. Tapi saat itu saya tidak dirawat di rumah sakit dan tidak ditransfusi karena tidak ada pendarahan dan Hb saya masih normal. Dokter pun memutuskan untuk tidak memberikan obat steroid lagi, hanya memberikan obat cacar air saja.

Banyak orang bertanya, bagaimana saya bisa lepas obat dan trombosit saya bisa stabil di kisaran 80-90.000. Saya selalu menjawab bahwa ITP bisa dikelola, meski dengan trombosit di bawah normal, kita masih bisa beraktifitas seperti orang normal. Kuncinya dengan menjalankan LDHS (Lima Dasar Hidup Sehat), seperti yang bisa disimak di video saya ini. (dari buku Berkarya di Atas Persoalan) 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

آپلود عکس